2 tahun yg lalu

Psikolog Anak: Orang Tua Bahagia Menghasilkan Anak Bahagia

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Psikolog bidang Perkembangan Anak Usia Dini Universitas Indonesia Yuni Widiastuti menyatakan orang tua yang bahagia dalam proses pengasuhan, maka akan menghasilkan anak yang bahagia pula.

Pernyataan tersebut disampaikan Yuni pada diskusi Kelas Orang tua Hebat (Kerabat) ke-11 yang diselenggarakan oleh Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) dengan tema "Pengasuhan Bahagia untuk Anak Bahagia" yang diikuti secara daring di Jakarta, Selasa (14/11/2023).

"Anak yang bahagia datang dari orang tua yang bahagia. Kalau orang tua bahagia, maka aura yang terpancar kepada anak juga bahagia, sehingga keluarga otomatis bahagia," kata Yuni.

Pada diskusi Kerabat ke-11 tersebut, Yuni melontarkan pertanyaan kepada peserta, kapan orang tua merasa paling bahagia. Dari 800 peserta yang hadir secara daring dan menjawab pertanyaan tersebut dalam sebuah survei, menunjukkan hasil bahwa hampir 80 persen orang tua merasa bahagia ketika anak bahagia, anak sehat, anak ceria, anak berhasil, atau saat keluarga berkumpul.

Karena itu, agar dapat menularkan kebahagiaan kepada sang anak, Yuni menekankan pentingnya orang tua memperhatikan kesehatan atau kesejahteraan (wellbeing) diri sendiri. "Sesuatu yang paling berharga untuk diwariskan dari orang tua ke anak adalah kebahagiaan orang tua itu sendiri, jadi orang tua mesti memperhatikan wellbeing-nya sendiri," katanya.

Ia menjelaskan, wellbeing adalah sebuah kondisi dimana seorang individu memiliki sikap yang positif terhadap diri sendiri dan orang lain. "Jadi, sudahkah kita punya sikap yang positif terhadap diri sendiri? Karena, ketika mau memastikan wellbeing anak optimal, maka kita, orang tua, dulu yang wellbeing-nya mesti terjaga," kata Yuni.

Ia juga menegaskan, apabila wellbeing yang dimiliki orang tua sudah optimal, maka ia tidak akan lagi membandingkan perkembangan anaknya dengan orang lain. "Kalau anak orang lain ranking satu, anak kita mesti ranking satu juga, masihkah kita seperti itu? Apakah kita masih membandingkan anak kita dengan anak orang lain? Kalau masih seperti itu, berarti wellbeing kita belum optimal," katanya.

Ia melanjutkan, wellbeing yang optimal bisa terjadi apabila seseorang dapat membuat keputusan, mengatur tingkah lakunya sendiri, dap...

Baca Seluruh Artikel