Liputan6.com, Jakarta - Nyamuk Wolbachia membawa harapan besar dalam penanganan demam berdarah dengue atau DBD.
Nyamuk ini disebarkan di tengah masyarakat agar lebih banyak nyamuk yang tertular bakteri Wolbachia.
Bakteri ini berperan dalam memblok replikasi virus dengue di dalam tubuh nyamuk.
Dengan begitu, nyamuk yang mengandung Wolbachia, tidak mampu lagi untuk menularkan virus dengue ketika nyamuk tersebut mengisap darah orang yang terinfeksi virus penyebab DBD.
Sayangnya, masih beredar anggapan-anggapan yang kurang tepat terkait nyamuk ber-Wolbachia.
Beberapa masyarakat menganggap bahwa ini adalah nyamuk Bill Gates. Ada pula yang menyebutnya nyamuk bionik.
Dengan kata lain, nyamuk Wolbachia dianggap sebagai rekayasa genetik.
Terkait hal ini, peneliti riset nyamuk ber-Wolbachia di Yogyakarta, dr Riris Andono Ahmad MPH PhD, mengatakan bahwa saat ini memang banyak disinformasi sistematik.
"Saat ini memang banyak disinformasi yang sangat sistematik, mengkaitkan dengan nyamuk bionik, mengkaitkan dengan penyakit yang lain yang tak berkaitan sama sekali itu merupakan disinformasi yang sistematik," kata Doni, panggilan akrab Riris dalam dalam media briefing daring bersama Ikatan Dokter Indonesia (IDI) pada Senin, 20 November 2023.
Doni, menjelaskan, setiap penyakit yang berbasis vektor memiliki vektornya sendiri-sendiri. Artinya, satu vektor tidak bisa memengaruhi penyakit yang bukan disebabkan oleh vektor yang sama.
Kasus infeksi demam berdarah (DBD) turun drastis hingga 77% dalam sebuah penelitian di Yogyakarta, dengan teknologi Wolbachia, yaitu memasukkan bakteri alami Wolbachia ke dalam nyamuk Aedes Aegypti atau nyamuk pembawa virus DBD.

2 tahun yg lalu
