Liputan6.com, Jakarta - Hiperseksual bisa terjadi pada laki-laki maupun perempuan. Jika pada laki-laki dikenal dengan sebutan satyriasis atau Don Juanism, khusus pada perempuan disebut nimfomania.
Kasus nimfomania bisa disebabkan oleh banyak hal berbeda pada setiap perempuan. Namun, penelitian telah menjelaskan beberapa faktor yang mungkin berkontribusi terhadap perilaku nimfomania.
Melansir Verywell Health pada Minggu, 19 November 2023, nimfomania dapat disebabkan oleh:
- Peristiwa kehidupan yang penuh tekanan atau trauma, termasuk pelecehan seksual.
- Faktor lingkungan.
Nimfomania atau hiperseksual secara umum tergolong pada masalah kesehatan mental. Hal ini dapat terjadi bersamaan dengan munculnya gejala masalah kesehatan mental lain.
Misalnya, seseorang mungkin menjadi hiperseksual dan melakukan hubungan seksual berisiko selama episode manik akibat gangguan bipolar.
Seiring berjalannya waktu, penelitian telah memicu perubahan dalam bahasa atau istilah yang digunakan untuk menggambarkan perilaku hiperseksual. Saat ini, nimfomania sering pula disebut:
- Gangguan hiperseksualitas.
- Perilaku seksual kompulsif
- Kecanduan seks
Namun, tak satu pun dari istilah tersebut dicantumkan dalam The Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, Fifth Edition (DSM-5). DSM-5 adalah panduan yang digunakan dokter sebagai referensi daftar gejala dan kriteria diagnostik gangguan kesehatan mental.
Hal ini menyebabkan identifikasi, pengobatan, dan penelitian perilaku hiperseksual jadi lebih sulit karena tak adanya daftar gejala dan kriteria yang formal.
Karakteristik Pengidap Nimfomania
Secara umum, nimfomania ditandai dengan fantasi, dorongan, dan perilaku seksual yang berlebihan, serta dorongan untuk bertindak sesuai keinginan individu.

2 tahun yg lalu
