Liputan6.com, Jakarta - Meskipun ketegangan yang terjadi baru-baru ini di Laut China Selatan telah menyoroti kerentanan maritim Filipina, risiko yang lebih berbahaya dari serangan siber yang disponsori negara kemungkinan jadi tantangan yang lebih besar bagi negara tersebut.
Dalam laporan pada November 2023, kelompok asal China yang dikenal sebagai Stately Taurus disalahkan atas serangan yang telah membahayakan lembaga pemerintah Filipina selama lima hari, bertepatan dengan bentrokan antara kapal kedua negara di Laut China Selatan.
Operasional Taurus “selaras dengan topik geopolitik yang menjadi kepentingan pemerintah Tiongkok”, menurut Palo Alto Networks, perusahaan keamanan siber Amerika Serikat yang membuat laporan tersebut.
Para pejabat Filipina mengatakan, sulit untuk mengaitkan serangan dunia maya pada satu negara tertentu.
Namun, pelanggaran keamanan online di negara Asia Tenggara masih tersebar luas, dikutip dari laman Straits Times, Jumat (12/1/2024).
Lebih dari 60.000 akun pengguna disusupi pada kuartal ketiga tahun 2023, menurut perusahaan keamanan siber Surfshark, sehingga menempatkan Filipina di antara 30 negara yang paling banyak diserang di dunia.
September 2023, perusahaan asuransi negara Philippine Health Insurance Corp mengalami kebocoran data yang sangat besar. Peretas merusak situs web Dewan Perwakilan Rakyat hanya beberapa minggu kemudian.
“Serangan dunia maya adalah ancaman yang lebih besar daripada penembakan meriam air,” kata Profesor Sherwin Ona, konsultan pertahanan dunia maya di Dewan Keamanan Nasional dan profesor di Universitas De La Salle di Manila.
Kementerian Komunikasi dan Informatika berhasil menemukan motivasi di balik aksi peretas yang menggunakan nama samaran 'Jimbo' dan menjual data publik seharga Rp1,1 miliar.
* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 tahun yg lalu




