Belajar Toleransi dari Desa di Lereng Gunung Sindoro, 4 Agama Hidup Damai

Wonosobo -

Dari sebuah desa kecil di lereng gunung Sindoro bernama desa Buntu, kita bisa belajar toleransi. Di desa ini, umat empat agama bisa hidup dengan damai.

Sejuk, tenang dan damai. Itulah kesan yang langsung terasa saat pertama kali menginjakkan kaki di Desa Buntu, Kecamatan Kejajar, Wonosobo.

Sebuah desa di lereng Gunung Sindoro ini hidup harmonis, meski warganya menganut empat keyakinan yang berbeda.
Empat keyakinan itu adalah Islam, Kristen, Katolik dan Buddha.

Dari empat agama tersebut, tiga di antaranya memiliki rumah ibadah yang hanya berjarak 80-100 meter saja antara satu dengan yang lain. Total ada 903 kepala keluarga (KK) di desa ini yang memeluk empat keyakinan berbeda.

Ketua Stasi Umat Katolik Desa Buntu, Tuwarno mengatakan, kerukunan warga di Desa Buntu tidak dibikin atau diatur secara khusus. Namun itu terjadi secara alamiah.

"Kerukunan di sini (Desa Buntu) tidak dibuat atau diotak-atik mau dibikin seperti apa. Tapi sudah terjadi secara alamiah saja," ujarnya saat ditemui di depan Gereja Katolik Ibu Marganingsih Desa Buntu, Sabtu (16/12).

Salah satu contohnya pada saat perayaan hari raya Paskah atau Natal. Ia menyebut setiap tahun saat umat Katolik tengah beribadat di dalam gereja, umat Islam dan Buddha membantu mempersiapkan keperluan lain di luar gereja, seperti menyiapkan konsumsinya, sehingga saat perayaan Paskah atau Natal umat Katolik bisa beribadat dengan khusuk.

"Pada saat perayaan Paskah atau Natal, di situ kami sering dibantu dari teman-teman dari agama lain, yakni Muslim dan Budha. Jadi pada saat kami beribadat di dalam gereja, mereka menyiapkan segala sesuatunya di luar gereja. Entah itu dari segi konsumsi atau keperluan lainnya. Karena memang banyak yang dipersiapkan. Kami biasanya mengundang beberapa tokoh dari agama lain," ungkap Tuwarno.

Desa Buntu Kecamatan Kejajar Wonosobo, hidup berdampingan dalam keberagaman keyakinan.Desa Buntu Kecamatan Kejajar Wonosobo Foto: Uje Hartono/detikJateng

Hal serupa juga diterapkan pada saat umat muslim menjalankan ibadah salat tarawih di bulan Ramadan. Saat salat tarawih berlangsung, warga pemeluk agama lain memasang por...