Liputan6.com, Jakarta - Isu sustainability atau berkelanjutan menjadi topik hangat yang jadi bahan perbincangan saat ini. Mengingat dampaknya secara nyata sudah dapat dirasakan manusia sebagai penghuni bumi.
Suhu bumi yang diklaim terpanas tahun ini, polusi udara, hingga berbagai bentuk bencana seperti banjir, semuanya merupakan dampak perubahan iklim yang secara tidak langsung berpengaruh dari perilaku dan konsumsi manusia yang menghasilkan emisi gas CO2 atau emisi karbon.
"Kalau dari sumber emisi karbon di Indonesia, yang menghasilkan 74,5 persen per hasil emisinya adalah industri dan sisanya dari individu, jadi sangat bergantung juga pola konsumsi kita," ungkap Senior Manager Energy and Sustainable Business di World Resources Institure (WRI) Clorinda Kurnia Wibowo dalam pemaparannya sebelum talkshow bertajuk "Beyond Carbon Neutral" di kawasan Jakarta Barat, Rabu (6/12/2023).
Itu sebabnya, menurut Clorinda, sektor industri menjadi kunci dan sebetulnya boleh diakui sudah banyak aksi yang dilakukan industri. Namun, masih banyak tantangan bagi industri untuk lebih berambisi mengurangi emisi karbon dan pemerintah saat ini belum menerapkan guideline yang baik untuk industri menerapkannya.
Banyak juga industri yang belum paham dengan bagaimana secara nyata mengurangi emisi karbon. Standar untuk industri menurutnya belum banyak dikeluarkan oleh pemerintah.
"Topik sustainability ini sedang jadi perbincangan di COP28, para ilmuwan dan pemimpin dunia berkumpul untuk meyakinkan pemerintah dan pebisnis dampak kegiatannya pada emisi karbon, serta adanya risiko yang segera terjadi untuk habitat manusia dalam jangka panjang," ungkap President Director, CEO Mowilex Indonesia, Niko Safavi di kesempatan yang sama.