Liputan6.com, New York City - Sekjen PBB Antonio Guterres mengungkap kekhawatiran terhadap kondisi di Jalur Gaza pada 100 hari perang yang sedang terjadi. Pada awal pidatonya, Antonio Guterres menyorot serangan Hamas pada 7 Oktober 2023 yang menyerang dan menculik rakyat sipil.
Kemudian, Guterres menegaskan bahwa hukuman kolektif yang dilakukan Israel juga tidak boleh dilakukan.
"Tidak ada yang bisa menjustifikasi hukuman kolektif terhadap rakyat Palestina. Situasi kemanusiaan di Gaza sudah tak bisa dijelaskan dengan kata-kata. Tidak ada tempat dan tidak ada orang yang aman," ujar Guterres pada keterangan resminya Senin (15/1)
Sekjen PBB mengingatkan bahwa mayoritas korban di Jalur Gaza adalah perempuan dan anak-anak. Jumlah korban tewas sudah tembus 20 ribu orang. Selain itu, 152 orang staf PBB yang tewas di Jalur Gaza. Guterres berkata itu adalah kehilangan nyawa terbesar yang dialami PBB pada sebuah krisis.
"Petugas bantuan, di bawah tekanan berat dan dengan tiada jaminan keselamatan, sedang melakukan yang terbaik untuk melaksanakan tugas di dalam Gaza," ujarnya.
Sekjen PBB juga meminta agar semua pihak menghormati hukum kemanusiaan internasional, sreta menghormati dan melindungi rakyat sipil.
Ia juga mengingatkan bahwa ketegangan terjadi di wilayah Timur Tengah, seperti yang terjadi di Laut Merah.
"Ketegangan telah menjulang setinggi langit di Laut Merah dan seterusnya, dan kemungkinan bakal tidak mungkin untuk dikekang," ia mengingatkan.
Penggawa klub Turki Antalyaspor asal Israel, Sagiv Jehezkel, ditangkap aparat set...